Senin, 20 Oktober 2008

LSM TUNAS HIJAU: PENGGERAK PERUBAHAN SOSIAL MELAWAN GLOBAL WARMING



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keadaan dunia sekarang ini sedang mengalami perubahan, perubahan dalam segala aspek kehidupan meliputi aspek sosial, ekonomi, dan politik serta yang tidak mau ketinggalan adalah perubahan lingkungan. Salah satu perubahan lingkungan yang sangat terasa adalah suhu udara yang kian meningkat di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia khususnya di Surabaya. Bahkan beberapa tahun belakangan ini masyarakat sering dihebohkan dengan berita pemanasan global yang disebut global warming.
Istilah global warming dan efek rumah kaca tak lagi asing di telinga setiap orang, karena global warming telah merambah pada perubahan iklim bumi. Biasanya istilah Efek Rumah Kaca, Pemanasan Global dan Perubahan Iklim digunakan untuk menggambarkan masalah yang sama. Namun, sesungguhnya istilah-istilah tersebut lebih menunjukkan hubungan sebab akibat.
Efek rumah kaca adalah penyebab, sementara pemanasan global dan perubahan iklim adalah akibat. Efek rumah kaca menyebabkan terjadinya akumulasi panas di atmosfer, yang kemudian akan mempengaruhi sistem global. Hal ini bisa menyebabkan naiknya temperatur rata-rata bumi yang kemudian dikenal dengan pemanasan global. Pemanasan global pada akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan iklim, meningkatnya permukaan air laut, menyebabkan terjadinya krisis persediaan makanan akibat tingginya potensi gagal panen, krisis air bersih, meluasnya penyebaran penyakit tropis seperti malaria, demam berdarah dan diare, kabekaran hutan, serta hilangnya jutaan spesies flora dan fauna karena tidak dapat beradaptasi dengan perubahan suhu di bumi. Selain itu, perubahan iklim juga menyebabkan terjadinya pergeseran musim, dimana musim kemarau akan berkangsung lama sehingga menimbulkan bencana kekeringan dan penggurunan.
Banyak tindakan yang bisa dilakukan oleh setiap individu untuk mencegah terjadinya perubahan iklim. Diantaranya berjalan kaki atau bersepeda pancal jika jarak tempuh dekat, membeli produk-produk ramah lingkungan, memanfaatkan lahan kosong untuk pepohonan, membeli produk dengan sedikit kemasan, menggunakan transportasi umum dari pada kendaraan pribadi, membawa botol minuman sendiri saat pergi sekolah atau bermain, menggunakan lampu TL / neon dari pada lampu pijar karena lebih hemat energi dan rajin menservis kendaraan bermotor untuk mengurangi emisi gas buang kendaraan.
Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah belum mampu menyadarkan masyarakat untuk mengatasi masalah tersebut, sehingga mendorong munculnya kelompok interes yang pada akhirnya akan mampu melakukan pengorganisasian (penggalangan) kelompok warga yang merasa tidak diberi keadilan. Dengan alasan yang cukup kuat dan rasional dalam tataran pandang warga maka terbentuknya suatu organisasi yang matang untuk melawan dapat dengan mudah dilaksanakan. Terdapat berbagai macam gerakan yang mempunyai perhatian pada kelestarian lingkungan hidup. Sebagai contoh gerakan lingkungan hidup dalam skala internasional dapat dilihat dari gerakan Greenpeace, World Wildlife Fund (WWF), dalam konteks Gereja dapat dilihat pada Gerakan Tani Lestari, Gerakan Merapi Cinta Air dll. Salah satu faktor yang mendasari gerakan lingkungan hidup pada umumnya adalah faktor sosial.
Yang dimaksud gerakan sosial itu sendiri merupakan suatu gerakan yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk melakukan suatu perubahan. Perubahan sosial ini menimbulkan dampak yang besar bagi masyarakat. Menurut Wilbert Moore perubahan sosial merupakan perubahan penting dari struktur sosial yaitu meliputi perubahan perilaku dan interaksi sosial. Perubahan sosial dipandang sebagai sebuah konsep yang menunjuk kepada perubahan fenomena sosial diberbagai tingkat kehidupan manusia mulai dari tingkat individual hingga tingkat dunia . Begitu pula dengan gerakan yang berbasis lingkungan hidup ini juga menimbulkan perubahan sosial. contohnya seperti yang telah dijelaskan tentang upaya untuk mencegah pemanasan global menyebabkan adanya perubahan sosial dalam masyarakat yang salah satunya masyarakat menjadi hidup lebih baik dan cenderung kembali ke alam atau yang sering disebut back to nature.
Dalam hal ini, LSM lingkungan hidup yang ada di Surabaya adalah LSM Tunas Hijau. Klub Tunas Hijau ialah organisasi lingkungan hidup non-profit, kids & young people do actions for a better earth yang bermarkas di Surabaya. KTH berawal dari pengiriman 5 orang Pramuka dari Jawa Timur ke Australia Maret 1999. Sejak itu, KTH terus konsisten dalam melakukan upaya-upaya sederhana dan nyata untuk membantu lingkungan hidup menjadi lebih baik. SKlub Tunas Hijau adalah organisasi lingkungan hidup yang dinamis, yang terus bergerak, berinovasi dan berkembang melalui program-program nyata untuk menciptakan bumi yang lebih baik. Paling sedikit dua kali dalam sebulan program lingkungan hidup dilaksanakan. dari sini banyak pergerakan yang dilakukan.
Sejak 2000, Klub Tunas Hijau memiliki program lingkungan hidup bersama dengan Millennium Kids Australia, Cross Cultural Environmental Education Exchange Australia Indonesia. Pada program ini, setiap tahun KTH melakukan kunjungan ke Australia Barat, demikian juga sebaliknya dengan Millennium Kids Australia. Program ini bukanlah sekedar kunjungan, tetapi memiliki muatan khusus untuk mencari inovasi baru dalam membuat program lingkungan.
Program pendampingan lingkungan hidup juga dilakukan KTH di sekolah-sekolah. Melalui program ini, KTH mengajak sekolah untuk memiliki kebijakan yang berwawasan lingkungan hidup didukung dengan kurikulum pendidikan yang berwawasan lingkungan hidup pula. Sekolah juga diajak aktif menciptakan lingkungan belajar mengajar yang berwawasan lingkungan hidup, diantaranya dengan pembatasan jenis sampah yang dihasilkan dan mengolah sampah yang dihasilkan. Sekolah juga diajak memiliki program lingkungan bersama masyarakat sekitar.
Selain kegiatan tersebut masih banyak kegiatan lain yang dilakukan oleh LSM Tunas Hijau untuk menjaga ekologi di daerah Surabaya. Atas dasar inilah peneliti tertarik untuk meneliti gerakan sosial yang dilakukan oleh LSM Tunas Hijau dengan judul ” LSM Tunas Hijau: Penggerak Perubahan Sosial Melawan Global Warming”.



B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah gerakan sosial yang dilakukan oleh LSM Tunas Hijau untuk melawan global warming?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gerakan sosial yang dilakukan oleh LSM Tunas Hijau untuk melawan global warming.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah agar dapat mengaplikasikan teori-teori gerakan sosial , serta dapat memberikan pemahaman lebih lanjut tentang gerakan-gerakan sosial khususnya gerakan ekologi.
BAB II
TINJAUAN TEORI
1. Gerakan sosial
Menurut Charles Tilly, gerakan sosial sering disebut sebagai proses politik, tindakan rasional, model mobilisasi sumber tentang tindakan kolektif, serta gerakan sosial itu sendiri. Sementara itu, Maxine Molyneux dalam karyanya Analysing Women’s Movements menyebutkan bahwa gerakan sosial itu dilakukan untuk meraih tujuan bersama. Gerakan sosial cenderung memerlukan dukungan jaringan. Menurut Keun, mobilisasi terhadap partisipan itu dapat dilakukan melalui mobilisasi personal maupun mobilisasi kognitif. Gerakan sosial juga menimbulkan beberapa konskuensi. Harper menyebutkan tentang adanya tiga macam konskuensi gerakan sehingga mangarah pada terjadinya suatu perubahan, yakni: 1) terjadinya dramatisasi isu sosial dan terciptanya masalah-masalah sosial; 2) dilakukannya perubahan-perubahan tertentu dalam kebijakan sosial; 3) ekspansi akses structural pada sumber-sumber tertentu seperti pendidikan, ketenaga kerjaan dan pemeliharaan kesehatan.
2. Teori Hegemoni
Gagasan tentang hegemoni pertama kali dikenalkan pada 1885 oleh para marxis Rusia, terutama oleh Plekhanov pada tahun 1883-1984. gagasan tersebut telah dikembangkan sebagai bagian dari strategi untuk menggulingkan Tsarisme. Istilah tersebut menunjukkan kepemimpinan hegemoni yang harus dibentuk oleh kaum proletar, dan wakil-wakil politiknya dalam suatu aliansi dengan kelompok-kelompok lain, termasuk beberapa kritikus borjuis, petani, dan intelektual yang berusaha mengakhiri negara polisi Tsaris.
Gramsci memandang negara merupakan instrumen terpenting bagi ekspansi kekkuatan kelas yang dominan dan sebuah kekuatan koersif yang membuat kelompok tersubordinat tetap lemah dan tidak terorganisasi sehingga kelas penguasa tetap dapat mempertahankan kekuasaannya. Untuk tujuan itu negara sering menempuh dua cara yaitu dominasi atau penindasan dan kepemimpinan intelektual serta moral. Tipe kepemimpinan yang kedua inilah disebut dengan hegemoni. Kepemimpinan moral dan filosifis demikian Bacock menyebutnya merupakan kepemimpinan yang dicapai melalui persetujuan aktif dari kelompok-kelompok utama dalam masyarakat, yaitu persetujuan yang didasarkan pada adanya pandangan bahwa posisi dominan dianggap sah.
Konsep hegemoni memang menekankan pada ideologi, bentuk ekspresi, cara penerapan, mekanisme yang dijalankan untuk mempertahankan dan mengembangkan diri melalui kepatuhan para korbannya sehingga upaya itu berhasil membentuk alam pikiran mereka. Pengaruh tersebut dimungkinkan karena manifestasi ideologi hegemonik berlangsung melalui pengaruh budaya yang di disebarkan secara sadar dan dapat meresap serta berperan dalam menafsirkan pengalaman tentang kenyataan. Proses penafsiran tersebut memang berlangsung secara samar, tetapi terjadi secara terus-menerus artinya secara sistematis ideologi hegemonik mencekcoki orang banyak dengan pikiran-pikiran tertentu, doktrin tertentu, bias-bias tertentu, sistem-sistem prefensi tertentu bahkan tuhan-tuhan tertentu.
Oleh sebab itu konsep sentral Gramsci adalah hegemoni, yang didefinisikan sebagai curtural laedership yang diterapkan melalui pengaturan kelas. Ia menunjukkan adanya kekerasan yang dilaksanakan dalam kekuasaan eksekutif dan legeslatif atau diekspresikan melalui intervensi kebijakan. Dalam pandangannya suatu kelasa akan menjalankan suatu kekuasaan terhadap kelas-kelas dibawahnya dengan cara kekerasan dan persuasi. Hegemoni dilakukan dengan menggunakan hubungan persetujuan serta kepemimpinan sebagai bentuk pengendalian melalui proses konsensus kesadaran. Dalam makna yang sederhana Hegemoni adalah suatu bentuk penguasaan oleh sebuah kekuatan pada kekuatan lain atau penguasaan sebuah kelompok pada kelompok yang lainnya, tentunya dalam pola hubungan seperti ini, perebutan dan pelanggenagn kekuasaan akan selalu diperhatikan. Hegemoni tidak pernah dapat diperoleh begitu saja tetapi harus diperjuangkan terus-menerus. Karena itu, hegemoni menuntut kegigihan untuk mempertahankan dan memperkuat otoritas sosial dari kelas yang berkuasa dalam kelompok lainnya.

3. Teori Interaksionisme Simbolik
Blumer melalui teorinya tentang interaksionisme simbolik mengemukakan tiga premis, yaitu: (a) Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka. (b) makna berasal dari “interaksi sosial seseorang dengan orang lain”.(c) Makna-makna tersebut disempurnakan disaat proses interaksi sosial berlangsung.
Seseorang tidak langsung memberikan respon pada tindakan orang lain, namun disadari oleh pengertian yang diberikan kepada tindakan itu. Dengan demikian manusia dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol dengan penafsiran oleh kepastian makan dari tindakan-tindakan orang lain. Interaksionisme simbolik yang diketengahkan Blumer mengandung sejumlah “root images” atau ide-ide dasar yang dapat diringkas sebagai berikut: (1) masyarakat terdiri dari manusia yang berinteraksi. Kegiatan tersebut saling bersesuaian melalui tindakan bersama, membentuk apa yang dikenal dengan organisasi dan struktur sosial. (2) interaksi terdiri dari berbagai kegiatan manusia yang berhubungan dengan kegiatan manusia lain. Interaksi-interaksi nonsimbolis mencakup stimulus respon yang sederhana, seperti halnya batuk untuk membersihkan tenggorokan seseorang. Interaksi simbolis mencakup penafsiran tindakan. Bila dalam pembicaraan seseorang pura-pura batuk ketika tidak setuju dengan pokok-pokok yang diajukan oleh si pembicara, batuk tersebut menjadi suatu simbol yang berarti, yang dipakai untuk menyampaiakan penolakan. Bahasa tentu saja merupakan symbol yang paling berarti. (3) obyek-obyek tidak mempunyai makna yang intrinsic, makna lebih merupakan produk interaksi simbolis. Obyek-obyek dapat diklasifikasikan kedalam tiga kategori luas: obyek fisik, obyek sosial. Blummer, membatasi objek sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Dunia objek diciptakan, disetujui, ditransformir dan dikesampingkan lewat interaksi simbolis. (4) manusia tidak hanya mengenal obyek eksternal, mereka dapat melihat dirinya sebagai objek. Jadi seorang pemuda bias melihat dirinya sebagai mahasiswa, suami, dan seorang ayah. Pandangan terhadap dirinya sendiri ini sebagaimana dengan semua orang lahir disaat proses interaksi simbolis. (5) tindakan manusia adalah tindakan interpretative yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Pada dasarnya tindakan manusia terdiri terdiri dari pertimbangan atas berbagai hal yang diketahuinya dan melahirkan serangkaian kelakuan atas dasar bagaimana mereka menafsirkan hal tersebut. Hal-hal yang dipertimbangkan itu mencakup berbagai masalah seperti keinginan dan kemauan, tujuan dan sarana yang tersedia untuk mencapainya, serta tindakan yang diharapkan dari orang lain, gambaran tentang diri sendiri dan mungkin hasil dari cara bertindak tertentu. (6) Tindakan tersebut saling dikaitkan dan disesuaikan oleh anggota-anggota kelompok, hal ini disebut sebagai tindakan bersama yang dibatasi sebagai organisasi sosial dari perilaku tindakan-tindakan bagi manusia. Sebagian besar tindakan bersama tersebut berulang-ulang dan stabil, melahirkan apa yang disebut para sosiologi sebagai kebudayaan dan aturan sosial.

4. Teori Jaringan
Menurut pandangan pakar teori jaringan, pendekatan normatif memusatkan pada perhatian terhadap kultur dan proses sosialisasi yang menanamkan (internalization) norma dan nilai ke dalam diri aktor. Menurut pendekatan normatif, yang mempersatukan orang secara bersama adalah sekumpulan gagasan bersama. Pakar teori jaringan menolak pandangan demikian dan menyatakan bahwa orang harus memusatkan perhatian pada pola ikatan objektif yang menghubungkan anggota masyarakat.
Wilman mengungkapkan pandangan ini: analisis jaringan lebih ingin mempelajari keteraturan individu atau kolektivitas berperilaku ketimbang keteraturan keyakinan tentang bagaimana mereka seharusnya berperilaku. Karena itu pakar analisis jaringan mencoba menghindarkan penjelasan normatif dari perilaku sosial. Mereka menolak setiap penjelasan nonstruktural yang memperlakukan proses sosial sama dengan penjumlahan ciri pribadi aktor individual dan norma yang tertanam.
Setelah menjelaskan apa yang bukan menjadi sasaran perhatiannya, teori jaringan lalu menjelaskan sasaran perhatian utamanya, yakni pola objektif ikatan yang menghubungkan anggota masyarakat (individual dan kolektivitas) Welman mengungkapkan sasaran perhatian utama teori jaringan sebagai berikut: Analis jaringan memulai dengan sederhana namun sangat kuat, bahwa usaha utama sosiolog adalah mempelajari struktur sosial...cara paling langsung, mempelajari struktur sosial adalah menganalisis pola ikatan yang meghubungkan anggotanya. Pakar analisis jaringan menelusuri struktur bagian yang berada di bawah pola jaringan biasa yang sering muncul ke permukaan sebagai sistem sosial yang kompleks. Aktor perilakuanya dipandang sebagai dipaksa oleh struktur sosial ini. Jadi, sasaran perhatian analisis jaringan bukan pada aktor sukarela, tetapi pada paksaan struktural. Satu ciri khas teori jaringan adalah pemusatan perhatiannya pada struktur mikro hingga makro. Artinya bagi teori jaringan, aktor mungkin saja individu, tetapi mungkin pula kelompok, perusahaan dan masyarakat.

5. Teori Strukturasi
Teori strukturasi Giddens menghubungkan antara mikro dan makro, diawali dengan pertukaran kemudian dihubungkan dengan kondisi-kondisi obyektif (struktur makro). Individu bergerak dari aktor ke agent, tidak saja mereproduksi perilaku yang telah ditetapkan oleh struktur makro, tetapi juga dapat memproduksi perilaku baru. Kapan hal itu terjadi tergantung dari kemampuan self monitoring dari individu, time, space dan power.
Ketika menjelaskan gerakan sosial, ia menghubungkan antara unsur-unsur dalam sistem kapitalisme dan varian gerakan sosial. Gerakan sosial terkait dengan unsur-unsur dalam sistem kapitalisme, yaitu: kapitalisme, industrialisasi, kekuatan militer dan pengaturan subyek di wilayah politik (surveilance). Gerakan sosial sebagai respon dari keempat unsur ini. Dalam bukunya Third Ways, ia menyarankan bagaimana mengambil langkah tengah, sistem kapitalisme harus bergerak dengan memikirkan kesejahteraan bersama, demikian pula gerakan sosial tidak perlu membuat dikotomi kapitalisme-sosialisme dan melakukan gerakan destruktif.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Sifat Penelitian
Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif, yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain, secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
Pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologi, di mana perspektif fenomenologi berpandangan bahwa apa yang nampak di permukaan merupakan suatu gejala atau fenomena dari apa yang tersembunyi dalam diri individu sebagai pelaku. Perilaku apapun yang tampak di permukaan baru bisa dipahami atau dijelaskan jika bisa mengungkap apa yang tersembunyi dalam dunia kesadaran atau pengetahuan individu sebagai pelaku. Karena itu fenomenologi merupakan perspektif yang tepat utuk membantu peneliti sebagai acuan pendekatan.


B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan mengambil LSM Tunas Hijau yang berlokasi di Jl. Semolowaru, Surabaya dan akan dilaksanakan pada tanggal 25 oktober sampai tanggal 25 November 2008.

C. Subyek Penelitian
Sampel penelitian ditentukan berdasarkan teknik snowball sampling yaitu pemilihan subjek penelitian pertama kali yang ditemui berdasarkan pertimbangan bahwa subyek penelitian adalah orang yang dianggap mengetahui deskripsi mengenai daerah penelitian yang kemudian dijadikan sebagai key informant. Sedangkan pemilihan subyek penelitian selanjutnya berdasarkan subjek sebelumnya. Pemilihan subyek penelitian ini mengutamakan pada anggota LSM Tunas Hijau serta masyarakat sekitar yang mengetahui dan memahami tentang gerakan sosial yang dilakukan oleh LSM Tunas Hijau tersebut.

D. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini secara garis besar akan dilakukan dengan dua cara, yaitu penggalian data primer dan data sekunder. Penggalian data primer juga dilakukan dengan dua cara. Pertama, peneliti melakukan participant observert (partisipasi observasi). Disini peneliti mengamati langsung dengan melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan masyarakat yang diteliti. Di sini memungkinkan peneliti dapat berkomunikasi secara akrab dan leluasa dengan subyek penelitian sehingga memungkinkan bertanya secara lebih rinci dan detail terhadap permasalahan yang akan diteliti. Materi observasi dipusatkan kepada aktivitas, perilaku, dan perkataan subyek penelitian serta lingkungan sosial yang mempengaruhinya.
Kedua, indepth interview atau wawancara secara mendalam. Wawancara mendalam merupakan serangkaian percakapan persahabatan yang kedalamannya diteliti secara perlahan memasukkan beberapa unsur baru untuk membantu informan memberi jawaban. Hubungan pewawancara dengan yang diwawancarai adalah dalam suasana biasa, wajar, sedangkan pertanyaan dan jawabannya berjalan seperti pembicaraan biasa dalam kehidupan sehari-hari saja. Adapun angkah-langkah dalam melakukan indepth interview antara lain dengan getting in. Getting in yang dilakukan adalah beradaptasi agar bisa diterima dengan baik oleh subjek penelitian. Peneliti menciptakan situasi kekeluargaan misalkan memperkenalkan diri dan beramah tamah untuk menarik perhatian subjek penelitian sehingga peneliti dapat membangun trust atau kepercayaan agar tidak ada jarak diantara peneliti dengan subjek penelitian. Setelah trust (kepercayaan) terbentuk, peneliti akan menjaga perilaku dan penampilan yang sama seperti subjek penelitian. Apabila kedua teknik tersebut berjalan dengan baik, maka akan tercipta rapport dari subjek penelitian, sehingga informasi-informasi yang dibutuhkan oleh peneliti dengan mudah diperoleh.
Pada waktu interview, peneliti akan menggali semua informasi melalui pertanyaan-pertanyaan yang mendalam tetapi masih berada pada fokus yang diteliti, yaitu peneliti terlebih dahulu membuat instrument penelitian yang berupa catatan tentang perihal yang akan diteliti dan yang akan ditanyakan. Setelah diperoleh informasi peneliti akan menyusun kembali dalam bentuk field note. Field note merupakan catatan untuk merekap informasi yang didapat dari lapangan agar tidak lupa. Sedangkan penggalian data sekunder akan diperoleh melalui foto-foto, media elektronik misalnya internet, serta dari monografi atau profil desa.

E. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian kualitatif analisis data dilakukan secara konsep logika yang bertitik tolak dari khusus ke umum (induktif abstraktif). Konseptualisasi, kategorisasi dan deskripsi dikembangkan atas dasar kejadian yang dialami subjek dan relevan dengan permasalahan yang diteliti. Selain itu, juga dikembangkan teoritisasi dengan hubungan antar kategori. Antara pengumpulan data dan analisis tidak bisa dilepaska atau dipisahkan satu sama lain. Keduanya berlangsungan secara simultan, prosesnya terbentuk siklus seperti yang dilukiskan Huberman dan Miles.
Pada penelitian ini, tahap analisis data dimulai dari menelaah data hasil wawancara dan hasil pengamatan yang sudah dituliskan dalam fieldnotes yang terkumpul. Dalam proses pengolahan informasi ini peneliti membuat proceeding lengkap secara tertulis dari semua informasi yang diperoleh dari in-depth interview dan selanjutnya peneliti akan memberikan catatan pinggir (berupa refleksi). Catatan ini mencerminkan pribadi atau situasi dalam penelitian, spekulasi, masalah, ide dan apapun yang akan menambah kerangka konseptual dalam menginterpretasikan catatan lapangan yang deskriptif.
Setelah dipelajari dan ditelaah, maka langkah berikutnya adalah mereduksi data untuk diklasifikasikan. Dari hasil reduksi dan klasifikasi data maka menghasilkan kategorisasi. Permasalahan dianalisis untuk membuat kategorisasi. Setelah dianalisis kemudian dipaparkan untuk memperoleh kesimpulan.


DAFTAR PUSTAKA

Bocock, Robert. Pengantar Komprehensif untuk Memahami Hegemoni. Yogyakarta: Jalasutra. Halaman 22.


Gramsci dalam Juhairiyah. 2008. Opini Masyarakat terhadap Poligini yang Dilakukan Kiai (Studi Deskriptif tentang Opini Berdasarkan Tingkat Pendidikan Masyarakat di Batu Ampar Proppo Pamekasan Madura). Tesis tidak diterbitkan. Surabaya: Universitas Airlangga. Halaman 27.

Lauer, Robert H. 1989. Perspektif Tentang Perubahan Sosial. Jakarta: PT Melton Putera. halaman 4-5.


Miles, Mathew B. dan A. Michael Huberman. 1992. Sumber Analisis Data Kualitatif: Bukan Sumber Tentang Metode-metode Baru. UI Press. Halaman: 20.


Moleong, Lexy. J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Halaman: 6.


Poloma, Margaret M. 2007. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Halaman: 264

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana. Halaman 382-383.


Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi. 1989. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES. Halaman 136.


Wahyudi. 2005. Formasi dan Struktur Gerakan Sosial Petani. Malang: UMM Press. Halaman: 7.

USULAN PENELITIAN

LSM TUNAS HIJAU:
PENGGERAK PERUBAHAN SOSIAL MELAWAN GLOBAL WARMING


(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah gerakan sosial)






Oleh:
DEWI UHROYDA 064 564 002
EVI NURDIANA 064 564 016
UMI MAHMUDAH 064 564 028
KATON GALIH S. 064 564 032



PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2008

14 komentar:

GeRaS_06 mengatakan...

nama : Heri Saputro / 064564024

Herisos_024@yahoo.co.uk

dari judul kelompok saudara yang menjadi permasalahan adalah apakah memang LSM tunas hijau itu merupakan penggerak masyarakat melawan global warning. kalau kelompok saudara menggunakan kata melawan yang menjadi pertanyaan adalah seberapa besar bentuk perlawanan LSM Tunas Hijau melawan Global Warming dan apakah mampu hanya sebuah pranata LSM misalnya melawan peliknya masalah global warming. menurutku LSM Tunas Hijau adalah sebagai "fasilitator" pencegah global warming. Lsm Sebagai fasilitator untuk menumbuhkan keseriusan masyarakat untuk mengurangi pemanasan global. LSM tunas Hijau mungkin fungsinya untuk menggugah kesadaran masyarakat untuk peduli lingkungan

GeRaS_06 mengatakan...

solichah / 064564013

yang saya komentari adalah proposal yang anda posting di blog ini tidak menyertakan footnote atau sidenote, yang ada koq cuma daftar pustaka. alangkah baiknya juga ditampilkan, karena mungkin bisa dianggap bagi pembaca lainnya, apakah data2 yang anda susun di proposal ini benar adanya atau cuma sepintas aja..
satu lagi anda belum menjelaskan siapa yang mendalangi global warming yang membayangi Surabaya menurut LSM Tunas Hijau?
Sekian, makasih...

GeRaS_06 mengatakan...

Riza Anugrah S. / 064564006

Proposal anda relatif baik. tapi klo boleh saya menambahkan, yaitu apakah LSM Tunas Hijau memfokuskan permasalahan pada semua lingkungan di Surabaya?, maksudnya adakah yang lebih difokuskan, apakah lingkungan di perkotaan atau lingkungan di pedesaan atau pesisir pantai?, hal ini perlu ada batasan yang jelas kemana arah pergerakan sosial yang digagas Tunas Hijau. Rumusan masalah anda mungkin bisa ditambahi. Tinjauan teori juga sudah cukup dan metode penelitian anda cukup mudah dimengerti.

UniFakta mengatakan...

Handy Setyo p
064564216
yogandos99@rasta.vara


CaK GaNdos mau bilang ke kelompok kalian::::
langsung aza...
hello LSM tunas hijau!!!kelompok kalian sangat bagus dan singkat dan mudah diBaca,,judulnya bagus tetapi saya cuma menanyakan....
tentang judul kelompok kalian..penggerak perubahan sosial melawan global warming,,apa saja yang terkait tentang global warming di LSM Tunas hijau..dan misi dan visi tunas Hijau apa!!!apakah misi dan visi hanya memberantas adanya global warming!!!klo boleh tau sejak kapan yaw LSM tunas hijau di gerakan....
di laporan anda saya membaca tentang KTH (Klub Tunas Hijau)tahun 2000 memiliki program lingkungan hidup bersama dengan Millennium Kids Australia, Cross Cultural Environmental Education Exchange Australia Indonesia...!!!tolong di jelasin dunk,,kaitannya dengan LSM anda!!!

Mudah-mudahan LSM tunas hijau selalu bergerak dan bersahabat...

SUKSES buwat Mbak dewis,dkk..
kita berantas global warming...
kita tanam seribu pohon penghijauan...

Wassaalam....

Gerakan Pemuda 2006 mengatakan...

Salam sejahtera buat temen-temen yang mengambil judul penelitian ini...Saya dari kelompok gerakan pemuda, Austenita N./064564018
Saya ingin menanyakan mengapa kelompok anda mengambil teori strukturasi dari Anthony Giddens tentang mikro dan makro? Dan alasan kelompok anda mengambil tema tentang Global Warming? Dan pertanyaan terakhir Apa tindakan kelompok anda terhadap krisis global warming yang terjadi khususnya di kota Surabaya?
Untuk coment lainnya cukup bagus kelompok anda mengambil tema ini karena sesuai dengan masalah yang terjadi pada dunia saat ini.
Sekian dari saya n tolong dijawab di bloger kelompok saya yach?? Thanx alot..Bravo sociology comunity!!

Gerakan Pemuda 2006 mengatakan...

petrisia maharani/064564206
petris_maharani

program kerja apa yang diusung oleh LSM tunas hijau? dan tindakan apa yang dilakukan oleh tunas hijau terhadap dampak global warning yang sudah terasa sekarang.dan LSM tunas hijau bekerja sama dengan LSM mana saja. Untuk propasal anda cukup bagus dan cukup mendetail sehingga kita tahu garis besar tentang tunas hijau. sekian dulu komon saya. makasih dan semangat ya... cayoo

Gerakan Pemuda 2006 mengatakan...

yulia rahmadani/064564205

Sore teman-teman.....!
Mengapa kalian meneliti LSM tunas hijau?dan apa yang menginspirasikan kalian mengambil tema ini?
dan apakah masyarakat surabaya ikut berperan aktif dalam LSM tunas hijau serta apa yang mengakibatkan terjadinya global warning menurut tunas hijau.
makasi dewis dkk

Gerakan Pemuda 2006 mengatakan...

anne/ 064564010
Gerakanpemuda2006.blogspot.com
hey..,malem...bontot neh ngasih comentnya...
LSM tunas hilau ni lumayan besar ya pengaruhnya buat masyarakat...
mereka jadi sadar ma penghijauan, tapi ya gak semuanya ce... eh u sempet tanya gak ma anak - anak Tunas Hijau tentang pembangunan box cuvert di jalan darmo barusan - barusan ni... kan yang mbangun tu motongin pohon di sana kan,,padahal butuh waktu lama tu buan mbesarin pohon sampe segitu...kok tau - tau di potong gitu aja.
apa tanggepan kalian tentang masalah tu... tanggepan anak - anak tunas hijau sendiri gimana???apa mereka gak tanya ma pemerintah??yang pake stereoform aja di demo, di ajak omong - omongan... kok yang nebang pohon gak di gituin ce...butuh perjuangan gede buat tu pohon biar bisa tumbuh segede tu lho...
o iya.. gerakan tunas hijau tu berdirinya resmi di Surabaya tu kapan ya..
wes kayanya segini aja dulu wes comentnya...tlong di tanggepin ya...
makasih banyak ya...

UniFakta mengatakan...

Danang Jaya(064564209)


Yang mau saya tanyakan kenapa koq jdul kalian diartikan sebagai melawan, kalau pendapatku sebaiknya adalah kata2 MENCEGAH bukan melawan karena kalau melawan berarti global warming itu sudah benar-bnar terjadi, yang terjdai saat ini adalah belum secara global, yang terjadi saat ini adalah hanya gejala-gejalanya saja.. karena yang dinamakan global warming itu pasti akan banyaknya bencana yang melanda di semua negara bagian..Trims gitu za..^_^

UniFakta mengatakan...

ANSORI (064564208)


Yang mau saya tanyakan apakah LSM Tunas Hijau bisa efektif melawan global warming..ingat pekerjaan ini tidak mudah karena untuk melawannya tidak hanya melakukan penghijauan tetapi mengajak pemerintah untuk mengurangi kendaraan yang berimisi gas buang berbahaya... sebenarnya surabaya tahun 2007 kemarin sudah harus melarang mesin 2tak dijalankan..tetapi karena kurangnya himbauan dari pemerintah surabaya akhirnya tetap dibiarkan saja. kalo bisa LSM ni ikut mengajak pemerintah Trims

GeRaS_06 mengatakan...

To : Umi
Sebelumnya terima kasih atas tanggapan anda terhadap hasil penelitian kami.

Dari tanggapan anda memang benar kalau ternyata deskriminasi juga dirasakan oleh etnis tionghoa terutama pada kelas bawah. Mulai dari soal kependudukan hungga perizinan dan perkawinan. dan kamipun juga baru menyadari hal itu melalui penelitian ini. itulah sebabnya penelitian ini menjadi menarik karena adanya deskriminasi yang ternyata juga dialami pada etnis Tionghoa.

Kedua menjawab tanggapan anda tentang mengapa di awal laporan penelitian kami yang banyak diceritakan adalah deskriminasi etnis tionghoa daripada gerakan yang dilakukan oleh LSM FLA sendiri karena memang seperti itulah hasil yang kita dapatkan di lapangan. Terlebih lagi memang munculnya deskriminasi ini sudah ada semenjak jaman penjajahan dahulu, sehingga menjadi wajar apabila kita lebih banyak memasukkan isi laporan tentang hal deskriminasinya daripada gerakannya

Yang terakhir yaitu menjawab kebingungan anda tentang perbedaan rumusan masalah yang ada di proposal dengan rumusan masalah yang ada di laporan.
Kalau berbicara antara proposal dan laporan memang jelas berbeda. Tapi bukan berarti mengubah semua dari apa yang direncanakan dalam proposal. sebenarnya perbedaan rumusan masalah yang kami tulis antara di proposal dan di laporan, secara substatif sama. hanya saja rumusan di laporan penelitian kami lebih spesifik terhadap topik penelitian yang kami lakukan.
Jadi saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kesalahan kami

GeRaS_06 mengatakan...

Ni riza dari kelompok Geras2006!

nim.064564006

Menanggapi komentar yang disampaikan oleh Evi...

sebelumnya saya minta maaf jika ada yang tidak berkenan di hati temen2 apa yang ada di dalam blog kami. dan saya juga terima kasih banyak atas sanjungan temen2 ni!?, he3x.

ya, ada sedikit perbedaan antara proposal dan laporan akhir kami. Karena kami melihat pada judul proposal mengenai legalitas perkawinan etnis tionghoa masih cukup sempit untuk menjelaskan diskriminasi terhadap etnis tionghoa. maka kami mencari akar permasalahan diskriminasi ini dengan mencari informasi lagi dan akhirnya kami menentukan bahwa status stateless dan rumitnya mengurus KTP menjadi hal sesungguhnya yang terjadi di masyarakat. tapi hal ini tidak menghilangkan elemen2 dari tema penelitian kami yaitu diskriminasi etnis Tionghoa.

ya mengenai latar belakang yang tidak mencantumkan profil LSM yang kami teliti, kami berpendapat bahwa kami ingin menyuguhkan masalah yang melatarbelakangi gerakan LSM tersebut. Untuk profilnya sendiri, kami paparkan sebagai temuan data. karena fokus kami bukan pada LSM saja, tetapi bagaimana LSM tersebut memaknai permasalahan diskriminasi yang dialami etnis Tionghoa, khususnya di Surabaya.

Untuk teori yang terdapat di bab tinjauan teoritis, memang ada penambahan di analisis data yaitu teori Giddens tentang strukturasi dan Gramsci.

mengenai subjek penelitian kami pilih berdasarkan keperluan yang berhubungan dengan masalah diskriminasi etnis tionghoa dan gerakan yang dilakukan LSM YLA.

Terima kasih atas koreksinya, semoga menjadi evaluasi bagi kita semua!!

GeRaS_06 mengatakan...

Jawaban Dari Kelompok GeRas
Solichah / 064564013
Bwt D wozzzz

Sebelumnya maturNuwo sudah muji laporan kami. Walaupun dibelakang banyak sekali hambatannya……

Langsung aja ya….:’)
Sampai sejauh ini permasalah yang sering sekali timbul adalah etnis tionghoa, sedangkan etnis arab damai-damai saja. Permasalah yang mereka hadapi jarang sampai muncul kepermukaan jadi sulit sekali di tarik permasalahannya. Agama islam yang berada di Indonesia ini justru memiliki dampak yang luar biasa terhadap keberadaan etnis tionghoa. Sedangkan bagi orang arab ini merupakan lahan yang luas untuk berdagang.
Memang saat Gus Dur menjadi kepala pemerintahan di negeri ini, beliau berani mengubah secara besar-besaran struktur yang sudah ada. Apa yang dilakukan Gus dur itu benar, setidaknya bisa memberikan angina segar bagi keberadaan etnis cina yang berada di Indonesia. Tapi keputusan Gusdur itu hanya sebuah keputusan yang berlaku diatas, sedangkan pelaksanaannya yang berada diapangan tidak jelas bahkan banyak yang tidak terealisasikan dengan tepat.
Kalo dibilang orang cina saat ini terdiskriminasi banget!!!! Jawabannya yoi… sampai ruang lingkup dia serba terbatas. Gak usah kejauhan keranah politik, untuk akses pendidikan dan pekerjaan atau istilahnya layanan public lah serba dibatasi bahkan tidak ada tempat. Tapi jawaban ini akan berubah TIDAK jika yang berada di masalah ini orang Cina kaya, mereka dapat memanfaatkan uangnya untuk membeli para aparat kita. Istilahnya orang pemerintahan menyebut orang cina kaya sebagai “Sapi perahan mereka” yang setiap saat dapat diperas uangnya. Tentu saja hasil dari ini masuk ke dalam kantong pejabat masing-masing, tidak mungkin masuk ke Negara sampai menambah devisa.
Prilaku orang cina kaya inilah yang menjadikan status stateless bagi orang cina miskin. Prilaku para aparat yang ditujukan kepada orang cina membuat seluruh lapisan orang cina mendapat akibatnya, apa yang kaya atau yang miskin.

Kurang lebihnya begitu…..??

GeRaS_06 mengatakan...

Jawaban dari kelompok Geras

Oleh : Heri Saputro / 064564024
Herisos_024@yahoo.co.uk

Buat katon

Pertama, Warga etnis Tionghoa tidak mendapatkan pengakuan sebagai warga Negara Indonesia oleh pemerintah orde baru dikarenakan pada waktu orde baru kewarganegaraan Indonesia menggunakan asas iusoli (keturunan). Oleh karena itu, etnis Tionghoa yang sejak jaman penjajahan berada di Indonesia tidak bisa diakui kewarganegaraannya oleh pemerintah Indonesia karena mereka bukan keturunan warga Indonesia. Bagi Etnis Tionghoa yang ingin menjadi warga negara Indonesia bisa melalui naturalisasi, tetapi harus mengeluarkan uang jutaan rupiah karena jalan untuk mengurus naturalisasi itu melalui beberapa meja mulai dari RT sampai pemerintah pusat. Adapun kerjasama di bidang ekonomi antara pemerintah Indonesia dengan etnis Tionghoa bisa melalui kerjasama investasi dan orang-orang Etnis Tionghoa yang kaya. Bagi etnis Tionghoa yang kaya bisa mengurus naturalisasi sehingga bisa mengakses ekonomi dan politik, tetapi bagi etnis Tionghoa yang miskin samapi sekarang tidak bisa mengakses ekonomi, pendidikan, kesehatan dan politik karena tidak mampu mengurus naturalisasi.
Kedua, etnis Tionghoa sekarang berubah perjuangannya menjadi pro rakyat Indonesia karena harapan satu-satunya pengakuan kewarganegaraan itu adalah Indonesia, sebab pemerintah cina yang memakai asas sanguinis (kelahiran) tidak mengakui etnis Tionghoa yang sudah turun temurun tinggal di Indonesia dan dokumen-dokumen dari pemerintah Cina sendiri mereka sudah tidak punya. Kalau etnis Tionghoa tidak pro terhadap rakyat Indonesia mereka akan mau lari ke negara mana? Hal itu berbeda pada zaman penjajahan karena etnis Tionghoa yang ada di Indonesia dilindungi oleh pemerintah kolonial maka mereka setia terhadap pemerintah kolonial.
Ketiga, sebenarnya etnis Tionghoa sampai saat ini tidak semuanya menjadi orang konglomerat yang bisa membawa lari uang rakyat. Banyak etnis Tionghoa kususnya di Surabaya yang mikin dan tidak punya status kewarganegaraan sehingga mereka tidak bisa mengakses pendidikan, politik, layanan kesehatan dan jaminan sosial dari pemerintah. Etnis Tionghoa yang semacam itulah yang dimaksud termarginalkan atau terpinggirkan.